Cegah Prostitusi Anak, Orang Tua Diminta Tidak Gaptek

Jakarta – Hasil penyelidikan aparat kepolisian menemukan praktik pemasaran prostitusi anak untuk kaum gay , ternyata dilakukan melalui media sosial, yaitu facebook. Menyikapi hal tersebut, Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengimbau kepada para orangtua agar tidak gagap teknologi (gaptek) untuk menghindari penyalahgunaan teknologi ke arah hal yang negatif oleh anak. “Mereka (jaringan prostitusi anak) sebenarnya terkoneksi lewat gadget. Jadi, plus-minus dari sebuah interaksi komunikasi lewat gadget ini memang orangtua mungkin sudah tidak boleh lagi yang gaptek. Artinya, orangtua harus bisa menyelidiki anaknya ini berkomunikasi dengan siapa saja dan apa yang kemudian dikomunikasikan dengan seluruh teman-temannya,” kata Khofifah di Istana Wakil Presiden (Wapres), Jakarta, Rabu (7/9). Selain mengimbau orangtua agar tidak gaptek, Khofifah juga mengatakan supaya para orangtua memperhatikan pergaulan anaknya, sehingga tidak terjerumus pada pergaulan ke arah negatif. Khofifah mengingatkan, dari kasus tujuh anak yang menjadi korban prostitusi, terbukti bahwa keluarga dari salah satu anak sangat religius dan orangtua si anak pun selalu mengajarkan kebaikan. Tetapi, masalah datang dari luar, yaitu lingkungan pergaulan yang menyebabkan terjerumus pada sindikat prostitusi anak. “Jadi hari ini orangtua yang sudah sangat baik, yang sudah memonitor kehidupan anak-anaknya ternyata lingkungan diluar itu harus diwaspadai. Ganas lingkungan di luar ini kalau tidak diikuti monitoring. jadi tetap pembelajaran-pembelajaran baik di rumah tetap harus diikuti monitoring,” ujar Khofifah. Seperti diketahui, kasus berawal dari upaya kepolisian menangkap seseorang bernisial AR yang diketahui mengelola Rio Ceper manajemen di Jalan Raya Puncak Km 75, Cipayung. Terhadap yang bersangkutan diduga melakukan praktek prostitusi anak laki-laki untuk dijajakan kepada kaum homoseksual dengan harga hingga Rp 1,2 juta. Tetapi, berdasarkan hasil pendalaman, kepolisian menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yaitu AR, U dan E. Kemudian, terhadap ketiganya dijerat dengan UU ITE, UU Perlindungan Anak dan UU Perdagangan Orang, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Selanjutnya, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigjen Agung Setya merilis bahwa korban prostitusi anak bagi kaum gay bertambah. Awalnya korban diketahui berjumlah 99 orang tetapi bertambah menjadi 148 orang. Bahkan Agung mengungkapkan bahwa korban tidak hanya berasal dari Bogor dan Sukabumi saja. Melainkan juga dari Jakarta dan Bandung. Novi Setuningsih/JEM Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu