Tak Siap Gunakan Peralatan Otomatis, Sepatu Roda Pakai Pencatat Waktu Manual

Bandung – Penghitungan waktu cabang olahraga sepatu roda di ajang Pekan Olahraga Nasional XIX Jawa Barat masin menggunakan timer manual. Hal itu mendapatkan kritik. Pengurus Besar PON lambat menyerahkan timer automatic kepada panitia lomba untuk menggelar perlombaan sepatu roda. Akibatnya, penghitungan waktu harus dilakukan manual menggunakan stopwatch , para peserta pun protes karena penyerahan catatan waktu menjadi lama. Akibatnya, perlombaan di nomor 300 meter time trial berjalan tak mulus. Di nomor ini, Jabar bisa menambah dua emas. Ketua cabor sepatu pada PON ke-19, Heri Sudrajat, mengatakan peralatan pencatat waktu otomatis sudah tersedia. Hanya saja, tidak siap untuk digunakan. “Jadi serah terima timer automatic dari PB PON kepada kami terlambat, jadi kami belum siap menggunakannya. Nah, karena peralatan itu harus dipelajari dan diprogram lebih dulu dan harus ada operator juga, kami tidak mau ambil risiko kalau belum mengoperasikan,” kata Heri di Arena Saparua, Kota Bandung, Kamis (22/9/2016). Menurutnya meskipun manual sistem atau menggunakan stopwatch , bukan berarti pihaknya tidak memenuhi standard nasional. Pasalnya, sambung dia, setiap atlet yang bertanding akan dikawal oleh tiga juri sekaligus. Ia menilai dengan cara itu akan meminimalisasi manipulasi penghitungan waktu. “Kami tetap antisipasi kesenjangan waktu dengan melibatkan tiga juri untuk setiap atlet. Stopwatch yang digunakan juga khusus,” jelas dia. Ia mengklaim sejauh ini pihaknya belum menerima ada keluhan dari para kontingen peserta PON. Sebab, sambung dia, sebelum babak penyisihan dimulai, para peserta sudah terlebih dahulu diberi penjelasan terkait kesalahan teknis itu. “Kita sudah jelasin pas tecnichal meeting waktu itu. Jadi, tidak ada masalah,” ucap dia. Berbeda dengan pengakuan Heri, pencatatan waktu dengan stopwatch ini dikeluhan oleh peserta. Apalagi hal itu dilakukan dari babak penyisihan sampai final. Keluhan pun disampaikan oleh para peserta. Salah satunya adalah manajer Sepatu Roda Jatim, Bambang. “Ini kelas PON kok pakai manual, sangat riskan kalau selisih waktunya tipis apalagi di nomor ITT, ” ujar kata Bambang. Selain itu, lanjut Bambang, hasil penghitungan waktu tidak diumumkan satu per satu setelah atlet tampil. Namun baru diumumkan setelah seluruh atlet menyelesaikan perlombaan. “Di Kejuaraan apapun, kalaupun pakai manual, langsung diumumkan satu persatu catatan waktunya. Tidak menunggu seluruh perlombaan selesai, ” ujarnya. (cas/fem)

Sumber: Sport Detik