Belajar Menyelesaikan Konflik dari Perkara Allegri dengan Bonucci

Juventus berhasil mengalahkan Napoli 3-1 dalam leg pertama Coppa Italia. Komunikasi antara Bonnuci dan Allegri terjalin dengan baik dalam 90 menit pertandingan. Publik seakan lupa bahwa beberapa hari sebelumnya mereka terlibat dalam konflik yang hebat. Gaya Menyelesaikan Konflik Allegri dan Bonnuci Konflik terjadi dalam pertandingan antara Juventus melawan Palermo pada laga ke-25 Seri A yang berakhir dengan skor 4-1 untuk kemenangan Juventus. Bonnuci terlihat tidak senang akan keputusan Allegri dalam strategi pergantian pemain, dan terlihat ada adu mulut yang terjadi antara mereka. Bos Juventus tersebut tertangkap kamera sedang berteriak ke arah bek timnas Italia tersebut: “Tutup mulutmu brengsek! Pergi!”. Bonucci menjawab “pergilah ke neraka!” sebelum akhirnya masuk ke lorong ruang ganti pemain setelah pertandingan berakhir tanpa memberi sambutan ke penonton. Dalam bukunya, Social Conflict (2004),Pruitt dan Rubin memberikan definisi sederhana tentang asal mula konflik. Menurut mereka, konflik itu terjadi ketika dua orang berusaha menempati ruang yang sama pada waktu yang sama, berkaitan dengan ruang fisik maupun ruang psikologi. Dalam kasus ini, jelas dapat kita lihat bahwa Bonnuci dianggap ingin memasuki ruang dimana seharusnya hanya ada Allegri di sana. Allegri pun ikut terpancing dengan mengeluarkan komentar tentang insiden tersebut. Sesudah itu, kejadian semakin memanas sesudah dalam ruang ganti tidak ditemukan kata sepakat. Sebenarnya kalau kita perhatikan, ini semakin menjadi-jadi karena konflik itu ditangkap oleh media. Konflik yang seharusnya berada di bawah permukaan dengan sendirinya nampak sebagai konflik terbuka yang akhirnya memicu perilaku dan komentar liar yang dapat digunakan untuk memperkeruh suasana. Ruang ganti Juventus memanas. “Apakah Bonucci sudah mempelajari cara menjadi pelatih saat ini? Itu mungkin sesuatu yang akan dia lakukan pada masa depan. Sejujurnya, dia bahkan masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari,” sindir Allegri, ketika ditanya media tentang konflik tersebut. Menjadi menarik jika kita perhatikan gaya menyelesaikan konflik gaya Allegri melalui komentarnya ini. Berpijak pada gaya menyelesaikan konflik antar pribadi (Teori Johnson,1981), maka gaya Allegri disebut dengan gaya Ikan Hiu (Shark). Tipe ini cenderung agresif memperjuangkan tujuannya. Gaya ini disarankan apabila merasa diri yang benar, perlu mempertahankan hak-hak kita yang seperti akan dirampas serta didorong waktu untuk menyelesaikan konflik ini secara cepat. Sekarang perhatikan reaksi Leo Bonucci yang tak kalah panas dan ikut berkomentar. Dalam satu kesempatan Bonucci mengomentari itu dengan bahasa yang lebih teduh tetapi tetap dibumbui sindiran. “Allegri adalah pelatih yang senang berbicara, dia telah mengerahkan kemampuan terbaik setiap pemain melalui dialog,” papar Bonucci sehari setelah konflik terjadi. Gaya Bonucci saya kira masuk dalam gaya rubah (Fox). Bonnuci sepertinya ingin mencari kompromi dengan berharap si lawan yaitu Allegri melupakan konflik itu dengan cara memuji dan berharap jalan tengah. Sayangnya gaya ini bisa dilakukan apabila posisi kedua orang ini dalam tingkat status dan jabatan adalah sama, namun jika beda, maka bisa terjadi salah penafsiran dan perbedaan perlakuan di setiap orang. Pandangan tentang Konflik Jika kedua gaya itu ternyata tidak tepat dalam sebuah kasus konflik, maka perlu dimanajemen dengan baik karena berhubungan dengan kinerja organisasi secara keseluruhan. Dalam contoh keseharian khususnya hubungan suami istri, suami yang terlalu sering memilih gaya hiu untuk merespon semua persoalan maka akan memicu keretakan dalam organisasi rumah tangga. Pada dasarnya ada beberapa pandangan tentang konflik itu sendiri. Dalam teori The Human relations View, konflik antara Allegri dan Bonnuci dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Konflik tidak dapat dihindari karena setiap orang memang memiliki perbedaan perspektif dan perbedaan cara mengkomunikasikan pendapat. Pandangan ini berbeda sekali dengan teori Traditional View yang menyatakan bahwa semua konflik itu buruk, konflik itu dilihat sebagai hal yang negatif dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence dan destruction. Maka jangan heran kalau dalam relasi apapun, ada beberapa pribadi yang merasa relasi (rumah tangga, persahabatan) akan segera hancur dan langsung stress hingga depresi ketika mengalami konflik. Padahal tidak mutlak demikian. Perlunya Pihak Ketiga Jika dilihat sebagai The Human relations View, maka konflik ini harus segera diselesaikan, namun apabila institusi yang lebih kecil antara pelatih dan pemain sepertinya tidak bisa menyelesaikan, maka perlu dicari pihak ketiga. Pihak ketiga yang dianggap tepat dalam kasus ini adalah petinggi Juventus, sebagai bagian dari organisasi yang lebih besar. “Kami telah berbicara dengan keduanya dan melayangkan teguran, kemudian kami berbagi pendapat dengan pelatih yang merupakan pimpinan dan manajer ruang ganti ujar pimpinan eksekutif Juventus, Beppe Marotta ketika ikut menengahi persoalan tersebut. Pihak ketiga (Marotta) mampu melihat konflik secara proporsional dan mampu mendudukan kembali kedua pihak dalam posisinya masing-masing. “Bonucci harus beradaptasi dengan beberapa aturan yang ada. Ini bukan terkait masalah disiplin, tapi juga tak memengaruhi bagaimana kami menghargai pemain dan kapasitas mereka.” tambah Marotta. Menyelesaikan Masalah dengan Mengutamakan Kepentingan Bersama Apakah sudah selesai sampai di sini?. Tentu saja tidak, karena tergantung dari bagaimana cara pihak yang terlibat konflik itu berniat baik dengan mengeksekusi hasil kesepakatan. Bonucci akhirnya diputuskan untuk tidak dibawa dalam pertandingan penting melawan FC Porto sebagai bentuk penegakan disiplin. “Besok Bonucci akan menyaksikan pertandingan dari tribun penonton.. Demi respek kepada klub, tim dan fans, ini adalah keputusan yang tepat Bonucci juga sudah mengerti situasinya. Dia adalah sosok cerdas yang penting bagi Juventus. Ini akan menjadi contoh yang tepat untuk masa depan,” tegas Allegri mencoba menjelaskan hukuman yang diterima Bonucci. Menariknya, Allegri juga menghukum diri sendiri. Ia mengakui turut bersalah dalam kejadian itu dan merasa pantas mendapatkan hukuman. Allegri pun memilih menjatuhkan denda terhadap dirinya sendiri dan kemudian menyalurkan uangnya ke yayasan amal. “Saya juga turut bersalah, reaksi saya tidak tepat. Ucapan saya tidak sesuai dengan cara pandang saya terhadap sepak bola, terlebih lagi dengan banyaknya fans dan anak-anak yang menyaksikan. Besok saya akan memberikan donasi untuk yayasan amal.” papar Allegri. Allegri berusaha menempatkan diri turut bersalah dalam konflik itu, walaupun pemicunya adalah Bonucci sendiri. Pelajaran menarik yang perlu kita perhatikan adalah perubahan gaya Allegeri menyelesaikan konflik. Allegri yang pada awalnya menggunakan gaya yang mementingkan tujuan daripada relasi (Ikan Hiu) pada akhirnya merubah gayanya menjadi kolaborasi (Gaya Burung Hantu). Gaya burung hantu adalah gaya yang meyakinkan orang lain bahwa tujuan dan relasi mereka sangatlah penting dengan motto Saya menang, anda menang. Konflik dianggap bermanfaat untuk meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan-ketegangan yang terjadi antara kedua belah pihak. Sesudah hukuman itu, seperti yang dijanjikan, Bonucci dimainkan Allegri dalam pertandingan melawan Empoli (25 Februari 2017). Leo Bonucci tampil apik dalam pertandingan yang berakhir 2-0 untuk kemenangan Juventus. Rekan Chiellini ikut memuji respon Bonucci sesudah menghadapi konflik. “Leo selalu mengutamakan kepentingan tim dan kemarin dia menjalani laga yang apik. Kami sangat beruntung bisa bersama-sama di klub ini karena hubungan antar pemain sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Kami bisa berargumen berulang kali, tetapi tetap mengutamakan kepentingan tim dan hasil akhir,” ungkap Chiellini. “Ini merupakan keputusan yang baik untuk semuanya. Kasus ini sudah berakhir,” tukas Beppe Marotta yang terlihat bahagia melihat kemenangan berturut-turut Juventus atas Empoli dan Napoli dari tribun Juventus dan tentunya sangat senang melihat Allegri dan Bonucci sudah akur di lapangan hijau. Selamat memanajemen konflik Anda Salam Catatan : 1. Setelah coret Bonucci, Allegri hukum diri sendiri. 2. Chiellini Puji Profesionalitas Bonnuci 3. Massimiliano Allegri sindir Leo Bonucci

personalized-baby-books.info onlinesbobet adalah situs penyedia berita seputar tips bermain bola pada sbobet Sumber: Kompasiana